Sabtu, 05 September 2015

Rindu Awal Hari

Kali ini di awal hari
Begitu besar
Aku meluap
Hingga kesempitan kamar tidurku
Sampai tumpah

Kita harus segera bertemu
Kumohon
Aku bisa gila lalu meledak

Aku harus mencintaimu dan kumohon cintailah aku

(26 Desember 2012)

Untuk Lelaki Berambut Duri

Karena di matamu
Aku merasa seperti kucing peliharaan sang ratu

Karena di dalam pelukanmu
Akh merasa seperti hujan di musim kemarau

Karena bersamamu
Hujan seperti menyayi
Dan roda sepeda motormu tampak menari

Karena tanpa engkau aku rindu
Bukan rindu seperti "apa kabar" atau "lama tak junpa" atau "apakah kau baik-baik sana",
Tapi lebih seperti "aku selalu memikirkanmu" dan "aku mencarimu bahkan dalam mimpiku"

(6 November 2012)

Khawatir 00.00

Wajah burukku, egoku, keliaranku, kesibukanku, kecuekanku, sinismeku
Bagaimana bisa kamu menolerir semua itu?
Ini lebih seram dari menghadapi badai di tengah malam tanpa mama

Aku takut sayang, aku takut
Tapi kamu bisa apa?

(16 Desember, 2012)

Rabu, 02 September 2015

Surat Tunggu

Menunggu, aktivitas yang sungguh menyebalkan dan melelahkan. Beraaaat sekali. Umpama dirupiahkan, sungguhlah lebih dari Milyaran nilainya.
Tapi sadar bahwa diri tengah ditunggu, ini level berat yang jauh lebih berat.
Itulah mengapa aku selalu meminta maaf, lagi, dan lagi, dan lagi.

Ketika aku memintamu menunggu, aku siap untuk melepasmu.
Dari awal, sejak bertahun-tahun yang lalu, aku pernah bilang bahwa aku merasa kurang pantas untukmu. Aku masih kurang baik, kurang cantik, dan lain sebagainya.
Tapi kamu bilang bahwa aku akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu.
Betapa bahagianya aku saat itu.
Maka dari itu, aku makin giat memperbaiki diri, memperbaiki kekuranganku.
Tapi hingga kini, aku membawa keburukan padamu.
Aku terus memperbaiki diri, tapi masih belum.
Aku masih membawa kemaksiatan, bahkan pada diriku sendiri.
Kau tahu? Aku cinta padamu. Sangat cinta. Padamu, laki-laki yang bukan suamiku.
Ini tak pantas. Aku bukan perempuan baik.
Sementara kamu berhak mendapat yang terbaik.
Oleh karena itu, saat aku memintamu menunggu, aku tau aku wajib melepaskanmu.
Tapi dasar aku.
Masih saja berucap, memintamu, memohon untuk ditunggu.
Tapi sungguh, andai kamu meninggalkanku, aku akan melepasmu.
Karena dengan begitu, kau akan mendapat perempua yang lebih baik dariku.
Dan dengan begitu, bahagialah hidupmu.
Maka bahagialah aku.
Aku yakin, aku pun, entah bagaimana dan kapan, akan melupakanmu dan mendapat pengganti yang kemungkinan besar tak lebih baik darimu, tapi terbaik untukku.

Minggu, 23 November 2014

Perihal Cinta Pertama

Di film-film, quote-quote, banyak yang bilang kalau cinta pertama tak bisa terlupa

Seorang akhwat pernah berujar pada saya, "aku takut aku jatuh cinta sama dia. Kalau misal aku sudah menikah terus cinta sama cinta pertamaku masih tersisa gimana? Kalaupun rasanya sudah hilang, kenangannya kan gak mungkin lupa?" Akhwat itu bercerita tentang seorang ikhwan yang tengah dekat dengannya. Saat itu ia baru saja lulus sma.

Kemarin, seorang pria bertengkar dengan calon istrinya. Ia mengaku bahwa dihatinya masih ada sedikiiiit sekali rasa untuk cinta pertamanya. Ia tak bisa lupa. Sang calon istri begitu kecewa. Ia ingin hanya dirinya di hati suaminya. Tapi bukankah manusia tak maha membolak-balikkan hati?

Tak ada konsep pacaran dalam Islam. Idealnya, suami atau istrinya lah yang berhak menjadi cinta pertama setiap manusia. Lah tapi secara empiris, begitu manusia mencapai puberitas, dia akan tertarik pada lawan jenisnya. Beberapa melabeli itu cinta pertama. Ada juga yang setelah berpacaran sekian kali baru jatuh cinta. Intinya, susah sekali untuk menjadikan suami atau istri sebagai cinta pertama.

Kalaupun suami atau istrinya adalah cinta pertamanya, bagaimana jika pasangannya meninggal dunia. Kalau ia menikah lagi, bagaimana bisa ia tak membagi cintanya?

Sepertinya, yang salah itu mengharapkan kekasih kita untuk mencintai kita sepenuhnya, 100%, tanpa ada sepersekian persenpun utk org lainnya. Seperti mengikhlaskan suami untuk berpoligami.. Tapi, cemburu, rasa indah yang juga diciptakan Allah....... Ah.

Allah Mahasegala. Mahatau, Maha Bijaksana. Siapa aku berhak mempertanyakan kebijakanNya dan memperoleh penjelasan dariNya? Dijelasin juga udah pasti gak paham. Otak manusia sebegini aja *tunjukin kuku kelingking*

Sabtu, 22 November 2014

Jikalau Aku Menyakitimu

Seorang kawan membuatkan aku puisi. Manis sekali. Kutulis disini, demi ingatkan diri aku harus membalas budi

Kamis, 23 Oktober 2014

Teruntuk Wanita yang Kupanggil Mama

Wanita
Hatinya tertinggal di suatu kota
Dulunya jadi tempat tinggal seorang raja
Pusara suaminya berada di bawah beringin tua
Tak jauh dari rumah lamanya
Hinggi kini masih juga ia rutin menyapa

Wanita
Anak pertamanya sudah lebih tinggi dari dia
Andai ibu tau seberapa besar ia mengasihi
Anak keduanya sebentar lagi jadi pria
Sibuk sekali, tapi selalu jadi anak mami

Wanita
48 tahun ia menjadi kuat demi cinta
biarlah angin menyapu rindu
Izinkan anakmu menumpumu
Cita citamu kan tiba, segera
Mereka sudah berjanji untuk membuatmu bahagia