Menunggu, aktivitas yang sungguh menyebalkan dan melelahkan. Beraaaat sekali. Umpama dirupiahkan, sungguhlah lebih dari Milyaran nilainya.
Tapi sadar bahwa diri tengah ditunggu, ini level berat yang jauh lebih berat.
Itulah mengapa aku selalu meminta maaf, lagi, dan lagi, dan lagi.
Ketika aku memintamu menunggu, aku siap untuk melepasmu.
Dari awal, sejak bertahun-tahun yang lalu, aku pernah bilang bahwa aku merasa kurang pantas untukmu. Aku masih kurang baik, kurang cantik, dan lain sebagainya.
Tapi kamu bilang bahwa aku akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu.
Betapa bahagianya aku saat itu.
Maka dari itu, aku makin giat memperbaiki diri, memperbaiki kekuranganku.
Tapi hingga kini, aku membawa keburukan padamu.
Aku terus memperbaiki diri, tapi masih belum.
Aku masih membawa kemaksiatan, bahkan pada diriku sendiri.
Kau tahu? Aku cinta padamu. Sangat cinta. Padamu, laki-laki yang bukan suamiku.
Ini tak pantas. Aku bukan perempuan baik.
Sementara kamu berhak mendapat yang terbaik.
Oleh karena itu, saat aku memintamu menunggu, aku tau aku wajib melepaskanmu.
Tapi dasar aku.
Masih saja berucap, memintamu, memohon untuk ditunggu.
Tapi sungguh, andai kamu meninggalkanku, aku akan melepasmu.
Karena dengan begitu, kau akan mendapat perempua yang lebih baik dariku.
Dan dengan begitu, bahagialah hidupmu.
Maka bahagialah aku.
Aku yakin, aku pun, entah bagaimana dan kapan, akan melupakanmu dan mendapat pengganti yang kemungkinan besar tak lebih baik darimu, tapi terbaik untukku.
Ah so sweet, tp ya jgn direlakan juga mbk rif, km kan layak ditunggu hehe,..
BalasHapusEh, Dewi. Hehe
HapusIya semoga dianya sadar aku layak ditunggu :p