Lily berlari dengan kaki dan langkahnya yang kecil sambil
merlirik jam yang melingkar di tangannya—pukul 7.00.
“Oh, tidak!” seru Lily
Sambil terus berlari, Lily merogoh saku di dadanya dan
mengeluarkan secarik tiket kereta. Lily melirik tiketnya. Di tiket itu tertulis
jadwal keberangkatan kereta, pukul 6.45. Wajah Lily tertekuk, air mata Lily hampir
menetes dari matanya. Lily memasukkan tiket itu di saku tempat ia berada
sebelumnya. Lily tetap berlari. Lily tau ia sudah terlambat. Keretanya pasti
sudah pergi. Tapi kenapa kamu tetap berlari, Lily? Kenapa kamu mengejar sesuatu
yang sudah pergi?
Ketika Lily sampai di peron dua—tempat dimana ia seharusnya
menaiki keretanya, seharusnya—ia tidak melihat satu kereta pun. Lily menghela
napas panjang. Air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya mulai
berjatuhan. Tangisan Lily yang sunyi
lama-lama berubah menjadi raungan dan isak panjang. Lily benar-benar sedih, ia
benar-benar ingin naik kereta itu. Tanpa kereta itu, Lily pikir, ia tidak akan
bisa sampai ke tempat tujuannya.
Seorang pria tua tiba-tiba menghampiri Lily dan berkata,
“kenapa kamu menangis?”
“Ke.. Kere..,” napas Lily tersendat. Ia tersengal.
“Keretaku..”
“Kamu kehilangan keretamu?” tanya pria tua itu lembut.
Lily berusaha mengangguk. Tubuh Lily bergetar hebat sehingga
Lily harus berusaha mengontrol tubuhnya hanya untuk mengangguk.
“Memangnya tujuanmu kemana?”
“Kebahagiaan,” ujar Lily sambil mengusap air mata di
pipinya. Tangisnya sudah mereda sekarang.
Pria tua di depan Lily mengernyitkan dahinya, “dari mana kamu
tahu kalau kereta itu menuju kesana?”
“Di tiketnya tertulis begitu.”
“Siapa yang menulis ini?”
“Hatiku.”
“Boleh aku lihat?” pria tua mengulurkan tangannya. Telapak
tangannya terbuka. Lily memberikan tiketnya.
Pria tua membaca tiket Lily. Ia—lagi-lagi—mengernyitkan
dahinya dan bergumam tidak jelas.
“Ya?” mata Lily melebar.
Pria tua itu mengembalikan tiket kereta Lily lalu mengecap
bibirnya, “hmm..” Pria tua melirik ke udara di sebelah kirinya, “aku sudah di
peron ini sejak tadi. Ada satu dua kereta yang singgah, tapi tak satu pun
menuju ke kebahagiaan.”
Lily kembali mengecek tiketnya. Ia membacanya baik-baik. Di
situ tertulis dengan jelas bahwa keretanya dijadwalkan berangkat pukul 6.45
pada hari ini lewat peron dua. “Tapi, bagaimana mungkin?”
“Mungkin kereta itu memang tidak pernah untukmu. Mungkin
hatimu salah,” ujar pria tua ragu.
“Tapi hatiku tak mungkin salah.”
Pria tua terkikik. “Memangnya hatimu Tuhan?”
“Bukan. Tapi Tuhan berkata lewat hatiku, nuraniku.”
“Pfft,” tawa pria tua itu tertahan. “Kamu terlihat cantik
dengan kenaifanmu.”
“Aku tidak mengerti.”
“Tuhan memang tak mungkin salah. Dan ia memang memberi
petunjuk lewat hati nurani manusia. Tapi indra manusia terbatas. Begitu pun
dengan pemahaman manusia. Keterbatasan itu yang seringkali membuat manusia
salah menafsirkan petunjuk Tuhan. Sayangnya, manusia sering sok tahu.”
Lily tertegun.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara kereta. Semakin lama
suara itu terdengar semakin jelas dan keras.
“Wah..,” ujar pria tua
Sebuah kereta memasuki peron dua. Ia berjalan lambat dan
semakin lambat hingga akhirnya berhenti dan membuka pintunya tepat di depan
Lily. Lily melihat ke dalam gerbong kereta. Ah, betapa menariknya kereta itu. Kereta itu terlihat
indah, meski tidak mewah. Kereta yang sederhana dengan isi yang lapang. Lily
terkejut betapa cepat ia bisa jatuh cinta pada kereta itu.
'Tapi tunggu,' Lily berkata kepada dirinya sendiri. Lily
membuyarkan lamunannya sendiri dengan menggelengkan kepalanya keras-keras. 'Kereta ini belum tentu bisa membawaku ke kebahagiaan. Kalau nanti aku malah
tersesat, bagaimana?'
Lily berjalan menyusuri peron. Ia memandangi kereta itu,
berusaha mengamati sedetil mungkin. Ia mengulurkan lehernya, melihat isi kereta
dari jendela. Ah, ada beberapa barang disana. Tampaknya milik penumpang
sebelumnya. Mungkin tertinggal tanpa sengaja. Di ujung peron, Lily berhenti.
“Hei, kamu mau naik tidak? Kamu tahu, kereta ini tidak akan
berhenti disini selamanya,” pria tua berteriak dari kejauhan.
‘betul juga,’ sadar Lily dalam hatinya. ‘Tapi..’
“Kalau memang kamu mau naik, sebaiknya naiklah sekarang.
Tampaknya kereta ini akan berangkat sebentar lagi,” teriak pria tua sekali lagi
“Ini bukan kereta yang kuinginkan.”
“Siapa tahu ini kereta yang kau butuhkan.”
Tiba-tiba pintu kereta bergerak menutup. Dan secara
spontan, seperti reflek menoleh ketika punggung kita ditepuk, Lily meloncat
masuk ke dalam kereta itu. Di gerbong lain, pria tua juga masuk ke dalam kereta.
Perlahan, kereta itu mulai berjalan.
Saat kereta mencapai kecepatan stabilnya, Lily berjalan
menuju gerbong pria tua. Dan sambil berjalan, Lily merasakan hal aneh. Lily
merasa begitu nyaman, begitu ceria, begitu.. tidak bersedih. Semua
kekecewaannya lenyap seketika. Lily bahkan bersyukur telah menaiki kereta itu.
Saat sampai di gerbong Pak Tua, wajah Lily cerah dan penuh
senyum. pria tua yang duduk di samping jendela di ujung gerbong tak mau kalah
bahagia dari Lily, ia tersenyum.
“Terima kasih,” ujar Lily
“Untuk apa?” Pria tua menanyai Lily sambil lalu
“Yah..,” Lily mengangkat kedua bahunya.
Mereka terdiam.
“Oh ya, kita belum
berkenalan. Aku Lily. Anda?” Lily memecah keheningan
“Akal.”
Lily lalu duduk tak jauh dari Akal. Mereka berdua sama-sama
diam. Dan kereta itu pun begitu tenang tak bersuara. Tiba-tiba, Akal
menunjuk sebuah tulisan di atas pintu kereta. Lily menoleh kesana dan
membaca sebuah tulisan. Disana tertulis: tujuan kereta: kebahagiaan.
Membaca itu, Lily tersenyum sambil menghembuskan napas
panjang. Ia membenarkan posisi duduknya, hingga senyaman mungkin, lalu
menyandarkan punggungnya dan mulai bercengkrama dengan Akal. Dalam hati, Lily berkata, 'aku ingin naik kereta ini hingga aku sampai ke tempat tujuanku. Meski itu akan butuh waktu hingga seumur hidupku.'
Belakangan, Lily mengetahui bahwa kereta yang ia inginkan sebelumnya bertujuan ke kebebasan.
Belakangan, Lily mengetahui bahwa kereta yang ia inginkan sebelumnya bertujuan ke kebebasan.
"Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal ini baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" - Q.S. Al Baqarah: 216
Nice!
BalasHapuskereeeeennn.....
BalasHapus