Senin, 06 Mei 2013

SEBUAH KERETA PADA SEBUAH PERON


Lily berlari dengan kaki dan langkahnya yang kecil sambil merlirik jam yang melingkar di tangannya—pukul 7.00.

“Oh, tidak!” seru Lily

Sambil terus berlari, Lily merogoh saku di dadanya dan mengeluarkan secarik tiket kereta. Lily melirik tiketnya. Di tiket itu tertulis jadwal keberangkatan kereta, pukul 6.45. Wajah Lily tertekuk, air mata Lily hampir menetes dari matanya. Lily memasukkan tiket itu di saku tempat ia berada sebelumnya. Lily tetap berlari. Lily tau ia sudah terlambat. Keretanya pasti sudah pergi. Tapi kenapa kamu tetap berlari, Lily? Kenapa kamu mengejar sesuatu yang sudah pergi?

Ketika Lily sampai di peron dua—tempat dimana ia seharusnya menaiki keretanya, seharusnya—ia tidak melihat satu kereta pun. Lily menghela napas panjang. Air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya mulai berjatuhan.  Tangisan Lily yang sunyi lama-lama berubah menjadi raungan dan isak panjang. Lily benar-benar sedih, ia benar-benar ingin naik kereta itu. Tanpa kereta itu, Lily pikir, ia tidak akan bisa sampai ke tempat tujuannya.

Seorang pria tua tiba-tiba menghampiri Lily dan berkata, “kenapa kamu menangis?”

“Ke.. Kere..,” napas Lily tersendat. Ia tersengal. “Keretaku..”

“Kamu kehilangan keretamu?” tanya pria tua itu lembut.

Lily berusaha mengangguk. Tubuh Lily bergetar hebat sehingga Lily harus berusaha mengontrol tubuhnya hanya untuk mengangguk.

“Memangnya tujuanmu kemana?”

“Kebahagiaan,” ujar Lily sambil mengusap air mata di pipinya. Tangisnya sudah mereda sekarang.

Pria tua di depan Lily mengernyitkan dahinya, “dari mana kamu tahu kalau kereta itu menuju kesana?”

“Di tiketnya tertulis begitu.”

“Siapa yang menulis ini?”

“Hatiku.”

“Boleh aku lihat?” pria tua mengulurkan tangannya. Telapak tangannya terbuka. Lily memberikan tiketnya.

Pria tua membaca tiket Lily. Ia—lagi-lagi—mengernyitkan dahinya dan bergumam tidak jelas.

“Ya?” mata Lily melebar.

Pria tua itu mengembalikan tiket kereta Lily lalu mengecap bibirnya, “hmm..” Pria tua melirik ke udara di sebelah kirinya, “aku sudah di peron ini sejak tadi. Ada satu dua kereta yang singgah, tapi tak satu pun menuju ke kebahagiaan.”

Lily kembali mengecek tiketnya. Ia membacanya baik-baik. Di situ tertulis dengan jelas bahwa keretanya dijadwalkan berangkat pukul 6.45 pada hari ini lewat peron dua. “Tapi, bagaimana mungkin?”

“Mungkin kereta itu memang tidak pernah untukmu. Mungkin hatimu salah,” ujar pria tua ragu.

“Tapi hatiku tak mungkin salah.”

Pria tua terkikik. “Memangnya hatimu Tuhan?”

“Bukan. Tapi Tuhan berkata lewat hatiku, nuraniku.”

“Pfft,” tawa pria tua itu tertahan. “Kamu terlihat cantik dengan kenaifanmu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Tuhan memang tak mungkin salah. Dan ia memang memberi petunjuk lewat hati nurani manusia. Tapi indra manusia terbatas. Begitu pun dengan pemahaman manusia. Keterbatasan itu yang seringkali membuat manusia salah menafsirkan petunjuk Tuhan. Sayangnya, manusia sering sok tahu.”

Lily tertegun.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara kereta. Semakin lama suara itu terdengar semakin jelas dan keras.

“Wah..,” ujar pria tua

Sebuah kereta memasuki peron dua. Ia berjalan lambat dan semakin lambat hingga akhirnya berhenti dan membuka pintunya tepat di depan Lily. Lily melihat ke dalam gerbong kereta. Ah, betapa menariknya kereta itu. Kereta itu terlihat indah, meski tidak mewah. Kereta yang sederhana dengan isi yang lapang. Lily terkejut betapa cepat ia bisa jatuh cinta pada kereta itu.

'Tapi tunggu,' Lily berkata kepada dirinya sendiri. Lily membuyarkan lamunannya sendiri dengan menggelengkan kepalanya keras-keras. 'Kereta ini belum tentu bisa membawaku ke kebahagiaan. Kalau nanti aku malah tersesat, bagaimana?'

Lily berjalan menyusuri peron. Ia memandangi kereta itu, berusaha mengamati sedetil mungkin. Ia mengulurkan lehernya, melihat isi kereta dari jendela. Ah, ada beberapa barang disana. Tampaknya milik penumpang sebelumnya. Mungkin tertinggal tanpa sengaja. Di ujung peron, Lily berhenti.

“Hei, kamu mau naik tidak? Kamu tahu, kereta ini tidak akan berhenti disini selamanya,” pria tua berteriak dari kejauhan.

‘betul juga,’ sadar Lily dalam hatinya. ‘Tapi..’

“Kalau memang kamu mau naik, sebaiknya naiklah sekarang. Tampaknya kereta ini akan berangkat sebentar lagi,” teriak pria tua sekali lagi

“Ini bukan kereta yang kuinginkan.”

“Siapa tahu ini kereta yang kau butuhkan.”

Tiba-tiba pintu kereta bergerak menutup. Dan secara spontan, seperti reflek menoleh ketika punggung kita ditepuk, Lily meloncat masuk ke dalam kereta itu. Di gerbong lain, pria tua juga masuk ke dalam kereta. Perlahan, kereta itu mulai berjalan.

Saat kereta mencapai kecepatan stabilnya, Lily berjalan menuju gerbong pria tua. Dan sambil berjalan, Lily merasakan hal aneh. Lily merasa begitu nyaman, begitu ceria, begitu.. tidak bersedih. Semua kekecewaannya lenyap seketika. Lily bahkan bersyukur telah menaiki kereta itu.

Saat sampai di gerbong Pak Tua, wajah Lily cerah dan penuh senyum. pria tua yang duduk di samping jendela di ujung gerbong tak mau kalah bahagia dari Lily, ia tersenyum.

“Terima kasih,” ujar Lily

“Untuk apa?” Pria tua menanyai Lily sambil lalu

“Yah..,” Lily mengangkat kedua bahunya.

Mereka terdiam.

“Oh ya, kita belum berkenalan. Aku Lily. Anda?” Lily memecah keheningan

“Akal.”

Lily lalu duduk tak jauh dari Akal. Mereka berdua sama-sama diam. Dan kereta itu pun begitu tenang tak bersuara. Tiba-tiba, Akal menunjuk sebuah tulisan di atas pintu kereta. Lily menoleh kesana dan membaca sebuah tulisan. Disana tertulis: tujuan kereta: kebahagiaan.

Membaca itu, Lily tersenyum sambil menghembuskan napas panjang. Ia membenarkan posisi duduknya, hingga senyaman mungkin, lalu menyandarkan punggungnya dan mulai bercengkrama dengan Akal. Dalam hati, Lily berkata, 'aku ingin naik kereta ini hingga aku sampai ke tempat tujuanku. Meski itu akan butuh waktu hingga seumur hidupku.'




Belakangan, Lily mengetahui bahwa kereta yang ia inginkan sebelumnya bertujuan ke kebebasan.

"Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal ini baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" - Q.S. Al Baqarah: 216

2 komentar: